Segenggam Mimpi Tak Tersampaikan
Hari ini Allana duduk termangung di
depan pelataran teras rumahnya. Pikirannya terarah jauh pada kisah miris yang
terjadi atas dirinya beberapa tahun lalu. peristiwa dimana nasib malang ini
mulai menimpa Allana dan juga impian yang terus dibawanya sejak kecil.
***
Teng! Teng! Bunyi lonceng sekolah
terdengar menggema, menembusi bangunan-bangunan tua sekolah itu, tanda bahwa
jam sekolah telah usai. Seorang gadis cantik jelita terlihat berjalan keluar
kelas. Di belakangnya gadis lain berlari menyusulnya. “Allana!” Panggil gadis
itu. Allana segera berbalik menghadap gadis itu,“Ada apa Nggi?” tanyanya. kemudian
Anggi menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada Allana. Anggi hanya ingin
bertanya apakah Anggi berencana mengikuti tes masuk biara suster RVM (Religious of the Virgin Mary).
Ternyata Allana juga berniat mengikuti tes itu. Lalu, keduanya melanjutkan
percakapan itu sampai pada keputusan bahwa mereka akan bertemu di biara nanti
sore. Anggi mencoba menawarkan diri untuk menjemput Allana di rumahnya, namun
Allana menolak, lantaran ia takut kalau orang tuanya akan mengetahui niat
Allana masuk biara. Ia tidak ingin rencana itu diketahui oleh kedua orang
tuanya.
***
Saat ini Allana masih mencari cara bagaimana bisa lolos dari orang tuanya. Setelah mencoba berpikir keras, akhirnya Ia menemukan ide yang cemerlang. Tanpa berlama-lama Ia pun melancarkan aksinya. Allana segera mengambil tasnya dan segera keluar dari kamar. Allana berencana membohongi kedua orang tuanya bahwa ia pergi ke rumah gurunya, dan rencana itu ternyata berhasil. Allana berhasil lolos dari orang tuanya. Tanpa berlama-lama ia langsung berangkat menuju biara. Kebetulan biara tersebut tidak jauh dari rumahnya.
***
Dua
jam pun telah berlalu, akhirnya Allana berhasil menyelesaikan tesnya dengan
baik. Hasil tesnya akan diumumkan beberapa minggu lagi. Saking gugupnya Allana
menantikan hasil tes itu, ia lupa kalau ada hal lain yang bisa membuat Allana
lebih gugup lagi, yaitu Orang tuanya. Allana lupa kalau ia sudah terlalu lama
di luar. Bisa runyam jadinya kalau orang tuanya mencurigai dirinya. Atau yang
lebih gawat lagi kalau Ayahnya pergi menyusul ke rumah gurunya. Tak kuat
rasanya membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Bisa-bisa akan menjadi masalah
yang serius.
Pikiran
yang semakin kacau itu membuat Allana segera pulang menuju rumahnya. Sesampainya
di rumah, apa yang semula dicemaskannya ternyata tidak terjadi. Beruntung Ayahnya
sudah tertidur. Tinggal ibu sendiri yang tengah melipat pakaian. Ibu bahkan
tidak menaruh rasa curiga sama sekali pada Allana. Sebelum Allana berjalan
menuju kamarnya, Ibunya sempat menawari dia makan. Allana menjawab kalau ia
sudah makan di rumah gurunya. Setelah itu ia berlalu meninggalkan ibunya
sendiri dan masuk ke dalam kamarnya. Allana merasakan tubuhnya sangat lelah. Tak
menunggu waktu yang lama Allana langsung membaringkan diri di kasurnya dan tak
menunggu waktu lama ia terlelap begitu saja.
***
Satu
bulan pun berlalu. Saat itu Allana sedang menunggu hasil tes masuk biaranya.
Ketika ia baru saja keluar dari warung, sebuah suara memanggilnya dari
kejauhan. “Allana!”, Allana tahu kalau itu suara Anggi. “Ada apa, Nggi?”, Tanya
Allana ketika Anggi sudah di dekatnya. Anggi kemudian menyodorkan sebuah amplop
kepada Allana. “Coba kamu baca”, perintah Anggi. Allana kemudian membuka amplop
tersebut dan membaca isinya. Ia kemudian terkejut. Itu adalah surat penerimaan
masuk biaranya. Ternyata Allana diterima masuk biara. Secara pontan ia langsung
memeluk Anggi kuat. “Bagaimana dengan kamu, Nggi?”, Tanya Allana sambil
melepaskan pelukannya. “Aku juga diterima, All”, jawab Anggi tak kalah bersemangat.
Lalu keduanya kembali berpelukan.
ketika
mereka sedang asik-asiknya menikmati kegembiraan mereka, ada satu hal yang
mengganjal dalam pikiran Allana. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya ia
memberitahukan hal ini kepada kedua orang tuanya. Mengetahui kalau Allana
sedang memikirkan sesuatu, Anggi kemudian bertanya kepada Allana. “Apa yang
sedang kau pikirkan, All?”. Mendengar pertanyaan Anggi, Allana langsung
terkejut, dan berusaha berbohong kepada Anggi,“Tidak apa-apa, Nggi. Aku cuman
kahwatir kalau Ibu mencemaskanku. Tadi aku disuruh Ibu membeli garam di warung.
Bisa habis aku dibuatnya kalau terlambat mengantarkan garam ini. Aku harus
segera pulang. Sampai jumpa”, pamit Allana pada Anggi. Allana tidak pernah tahu
kalau pertemuannya dengan Anggi kala itu adalah pertemuan terakhir mereka.
***
Sebelum
sampai ke rumahnya, dari kejauhan Allana melihat sebuah mobil terparkir di
depan halaman rumahnya. Barangkali ada tamu, pikirnya dalam hati. Allana
kemudian bergegas menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, kelihatannya mereka
semua yang ada di situ sedang menantikan kepulangannya. Tapi, Allana begitu
terkejut ketika melihat Ibunya menangis. “Bu, kenapa ibu menangis?”, Tanya
Allana sambil bergerak menuju Ibunya. Allana juga bingung ketika melihat dua
orang asing di rumah itu. “Yah, apa sebenarnya yang terjadi di sini, dan siapa
mereka”, Tanya Allana pada Ayahnya. Karena Ayanya tidak menjawab, Allana
menanyakannya kepada Ibunya, ” Ada apa ini, Bu? tolong jawab Allana! ”, Tanya Allana
dengan kebingungan yang memporakporandakan hatinya, tetapi Ibunya hanya bisa
terus menangis tanpa menjawab pertanyaan Allana.
Ayah
Allana kemuadian mulai membuka suara, ”Allana maafkan Bapak, Nak. Orang yang ada
di depan kita ini adalah Pak. Rinto. Dulu Bapak pernah berhutang padanya, dan
hari ini ia ingin menagih semua utang Bapak. Tapi masalahnya sekarang Bapak
sedang tidak punya uang. Ia akan melunasi semua utang Bapak asalkan dengan satu
syarat”, terang Ayahnya dengan muka sedih. “Apa syaratnya, Pak?”, Tanya Allana
penasaran. Ayahnya kemudian melanjutkan, “Syaratnya, asalkan kamu mau menjadi
isterinya”. Mendengar itu Allana langsung terkejut. kini ia hanya bisa membisu
lemah, seakan batu besar sedang menindisnya. Air matanya mulai membasahi pipinya
lagi. Ia merasa seperti sebuah benda yang diperjualbelikan. Ia hanya bisa
mengiyakan persyaratan tersebut. Ia tidak tahu akan jadi apa keluarga mereka
kalau Ia menolak persyaratan itu. Barangkali mereka akan diusir dari rumah
tersebut. Dengan berat hati Allana kemudian menerima persyaratan itu karena ia
tidak mau orang tuanya merayap menderita di jalanan.
***
Allana
sudah mengemas seluruh barang-barangnya. sebentar lagi ia akan meningalkan
orang tua beserta rumahnya. Ibunya kembali menghampirinya dengan tangis yang
belum usai. “Nak. Maafkan kami. gara-gara kami kamu yang harus jadi tumbalnya”,
kata Ibunya sambil memeluk anak tercintanya. “sudahlah, Bu. Allana ikhlas.
Mungkin ini adalah takdir buat Allana”. belum lama mereka berpelukan, Pak Rinto
memanggil Allana dari dalam mobil. “Cepat masuk Allana. Kita akan segera
berangkat”. Allana kemudian melepaskan pelukan dari Ibunya. Ia kemudian
mengangkut semua perlengapannya kedalam mobil dengan dibantu oleh supir. Ketika semua barang-barangnya sudah
diangkut,
Allana kemudian masuk kedalam mobil. Mobil kemudian mulai berangkat. Dari dalam
mobil Allana membuka kaca jendela mobil, lalu melambaikan tangan pada kedua
orang tuanya, tanda sebuah perpisahan.
***
Sakit rasanya mengingat semua kejadian itu dalam pikirannya. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kini Allana hanya bisa mengikuti alur hidupnya yang baru, bersama dengan anak dalam kandungannya ini. Ia kemudian mengambil sebuah amplop yang sedari tadi tergeletak di atas meja, lalu segera menuju ke belakang rumah. Allana kemudian menyalakan sebuah api di situ, lalu dibakarnya amplop itu, sebagai tanda ia ingin melupakan seluruh masa lalunya.
Penulis : Vergi Darman

Komentar
Posting Komentar