Segenggam Mimpi Tak Tersampaikan

 

         

(Gambar diambil dari Google)

           Hari ini Allana duduk termangung di depan pelataran teras rumahnya. Pikirannya terarah jauh pada kisah miris yang terjadi atas dirinya beberapa tahun lalu. peristiwa dimana nasib malang ini mulai menimpa Allana dan juga impian yang terus dibawanya sejak kecil.

***

            Teng! Teng! Bunyi lonceng sekolah terdengar menggema, menembusi bangunan-bangunan tua sekolah itu, tanda bahwa jam sekolah telah usai. Seorang gadis cantik jelita terlihat berjalan keluar kelas. Di belakangnya gadis lain berlari menyusulnya. “Allana!” Panggil gadis itu. Allana segera berbalik menghadap gadis itu,“Ada apa Nggi?” tanyanya. kemudian Anggi menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada Allana. Anggi hanya ingin bertanya apakah Anggi berencana mengikuti tes masuk biara suster RVM (Religious of the Virgin Mary). Ternyata Allana juga berniat mengikuti tes itu. Lalu, keduanya melanjutkan percakapan itu sampai pada keputusan bahwa mereka akan bertemu di biara nanti sore. Anggi mencoba menawarkan diri untuk menjemput Allana di rumahnya, namun Allana menolak, lantaran ia takut kalau orang tuanya akan mengetahui niat Allana masuk biara. Ia tidak ingin rencana itu diketahui oleh kedua orang tuanya.

***

Saat ini Allana masih mencari cara bagaimana bisa lolos dari orang tuanya. Setelah mencoba berpikir keras, akhirnya Ia menemukan ide yang cemerlang. Tanpa berlama-lama Ia pun melancarkan aksinya. Allana segera mengambil tasnya dan segera keluar dari kamar. Allana berencana membohongi kedua orang tuanya bahwa ia pergi ke rumah gurunya, dan rencana itu ternyata berhasil. Allana berhasil lolos dari orang tuanya. Tanpa berlama-lama ia langsung berangkat menuju biara. Kebetulan biara tersebut tidak jauh dari rumahnya. 

***

Dua jam pun telah berlalu, akhirnya Allana berhasil menyelesaikan tesnya dengan baik. Hasil tesnya akan diumumkan beberapa minggu lagi. Saking gugupnya Allana menantikan hasil tes itu, ia lupa kalau ada hal lain yang bisa membuat Allana lebih gugup lagi, yaitu Orang tuanya. Allana lupa kalau ia sudah terlalu lama di luar. Bisa runyam jadinya kalau orang tuanya mencurigai dirinya. Atau yang lebih gawat lagi kalau Ayahnya pergi menyusul ke rumah gurunya. Tak kuat rasanya membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Bisa-bisa akan menjadi masalah yang serius.

Pikiran yang semakin kacau itu membuat Allana segera pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, apa yang semula dicemaskannya ternyata tidak terjadi. Beruntung Ayahnya sudah tertidur. Tinggal ibu sendiri yang tengah melipat pakaian. Ibu bahkan tidak menaruh rasa curiga sama sekali pada Allana. Sebelum Allana berjalan menuju kamarnya, Ibunya sempat menawari dia makan. Allana menjawab kalau ia sudah makan di rumah gurunya. Setelah itu ia berlalu meninggalkan ibunya sendiri dan masuk ke dalam kamarnya. Allana merasakan tubuhnya sangat lelah. Tak menunggu waktu yang lama Allana langsung membaringkan diri di kasurnya dan tak menunggu waktu lama ia terlelap begitu saja.

***

Satu bulan pun berlalu. Saat itu Allana sedang menunggu hasil tes masuk biaranya. Ketika ia baru saja keluar dari warung, sebuah suara memanggilnya dari kejauhan. “Allana!”, Allana tahu kalau itu suara Anggi. “Ada apa, Nggi?”, Tanya Allana ketika Anggi sudah di dekatnya. Anggi kemudian menyodorkan sebuah amplop kepada Allana. “Coba kamu baca”, perintah Anggi. Allana kemudian membuka amplop tersebut dan membaca isinya. Ia kemudian terkejut. Itu adalah surat penerimaan masuk biaranya. Ternyata Allana diterima masuk biara. Secara pontan ia langsung memeluk Anggi kuat. “Bagaimana dengan kamu, Nggi?”, Tanya Allana sambil melepaskan pelukannya. “Aku juga diterima, All”, jawab Anggi tak kalah bersemangat. Lalu keduanya kembali berpelukan.

ketika mereka sedang asik-asiknya menikmati kegembiraan mereka, ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran Allana. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya ia memberitahukan hal ini kepada kedua orang tuanya. Mengetahui kalau Allana sedang memikirkan sesuatu, Anggi kemudian bertanya kepada Allana. “Apa yang sedang kau pikirkan, All?”. Mendengar pertanyaan Anggi, Allana langsung terkejut, dan berusaha berbohong kepada Anggi,“Tidak apa-apa, Nggi. Aku cuman kahwatir kalau Ibu mencemaskanku. Tadi aku disuruh Ibu membeli garam di warung. Bisa habis aku dibuatnya kalau terlambat mengantarkan garam ini. Aku harus segera pulang. Sampai jumpa”, pamit Allana pada Anggi. Allana tidak pernah tahu kalau pertemuannya dengan Anggi kala itu adalah pertemuan terakhir mereka.

***

Sebelum sampai ke rumahnya, dari kejauhan Allana melihat sebuah mobil terparkir di depan halaman rumahnya. Barangkali ada tamu, pikirnya dalam hati. Allana kemudian bergegas menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, kelihatannya mereka semua yang ada di situ sedang menantikan kepulangannya. Tapi, Allana begitu terkejut ketika melihat Ibunya menangis. “Bu, kenapa ibu menangis?”, Tanya Allana sambil bergerak menuju Ibunya. Allana juga bingung ketika melihat dua orang asing di rumah itu. “Yah, apa sebenarnya yang terjadi di sini, dan siapa mereka”, Tanya Allana pada Ayahnya. Karena Ayanya tidak menjawab, Allana menanyakannya kepada Ibunya, ” Ada apa ini, Bu? tolong jawab Allana! ”, Tanya Allana dengan kebingungan yang memporakporandakan hatinya, tetapi Ibunya hanya bisa terus menangis tanpa menjawab pertanyaan Allana.

Ayah Allana kemuadian mulai membuka suara, ”Allana maafkan Bapak, Nak. Orang yang ada di depan kita ini adalah Pak. Rinto. Dulu Bapak pernah berhutang padanya, dan hari ini ia ingin menagih semua utang Bapak. Tapi masalahnya sekarang Bapak sedang tidak punya uang. Ia akan melunasi semua utang Bapak asalkan dengan satu syarat”, terang Ayahnya dengan muka sedih. “Apa syaratnya, Pak?”, Tanya Allana penasaran. Ayahnya kemudian melanjutkan, “Syaratnya, asalkan kamu mau menjadi isterinya”. Mendengar itu Allana langsung terkejut. kini ia hanya bisa membisu lemah, seakan batu besar sedang menindisnya. Air matanya mulai membasahi pipinya lagi. Ia merasa seperti sebuah benda yang diperjualbelikan. Ia hanya bisa mengiyakan persyaratan tersebut. Ia tidak tahu akan jadi apa keluarga mereka kalau Ia menolak persyaratan itu. Barangkali mereka akan diusir dari rumah tersebut. Dengan berat hati Allana kemudian menerima persyaratan itu karena ia tidak mau orang tuanya merayap menderita di jalanan.

***

Allana sudah mengemas seluruh barang-barangnya. sebentar lagi ia akan meningalkan orang tua beserta rumahnya. Ibunya kembali menghampirinya dengan tangis yang belum usai. “Nak. Maafkan kami. gara-gara kami kamu yang harus jadi tumbalnya”, kata Ibunya sambil memeluk anak tercintanya. “sudahlah, Bu. Allana ikhlas. Mungkin ini adalah takdir buat Allana”. belum lama mereka berpelukan, Pak Rinto memanggil Allana dari dalam mobil. “Cepat masuk Allana. Kita akan segera berangkat”. Allana kemudian melepaskan pelukan dari Ibunya. Ia kemudian mengangkut semua perlengapannya kedalam mobil dengan dibantu oleh supir. Ketika semua barang-barangnya sudah diangkut, Allana kemudian masuk kedalam mobil. Mobil kemudian mulai berangkat. Dari dalam mobil Allana membuka kaca jendela mobil, lalu melambaikan tangan pada kedua orang tuanya, tanda sebuah perpisahan.

***

Sakit rasanya mengingat semua kejadian itu dalam pikirannya. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kini Allana hanya bisa mengikuti alur hidupnya yang baru, bersama dengan anak dalam kandungannya ini. Ia kemudian mengambil sebuah amplop yang sedari tadi tergeletak di atas meja, lalu segera menuju ke belakang rumah. Allana kemudian menyalakan sebuah api di situ, lalu dibakarnya amplop itu, sebagai tanda ia ingin melupakan seluruh masa lalunya.

Penulis : Vergi Darman

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PAHLAWAN KECIL

CERITA DI TANAH RANTAU

GUNE