PAHLAWAN KECIL
(Gambar diambil dari Google)
Cuaca hari ini terasa begitu panas dari
sebelumnya. Langit tampak biru dan awan gemawan tak terlihat mengangkasa.
Sebaliknya hanya ada gerombolan burung pipit yang terbang kian kemari mencari
tempat bertengger yang pas untuk satu kawanan. Hari ini para burung pipit akan
melangsungkan pertemuan perdana mereka di awal musim. Setelah mendapatkan
tempat yang cocok, kawanan pipit berlomba-lomba mencari ranting yang nyaman
buat kaki kecil mereka.
Ketika semua pipit sudah siap pada tempat
mereka, Marko, pemimpin dari kawanan itu mulai angkat bicara,
“Saudara-saudaraku, akhirnya hari yang kita nantikan telah tiba. Satu minggu
lagi para petani akan memanen padi di sawah mereka, dan itu artinya kita harus
bergegas mengumpulkan bulir-bulir padi sebelum para petani memanennya. Itu akan
menjadi persediaan kita di musim dingin nanti”.
Salah seekor dari kawanan pipit mulai
bertanya, “kalau boleh tahu tuan, kapan kita akan mulai mengambil bulir-bulir
padi tersebut?”.
“besok kita akan melaksanakan rencana
kita” jawab Marko lantang.
Setelah sepakat dengan rencana tersebut,
akhirnya kawanan pipit segera kembali ke sarang mereka. Marko tidak langsung
pulang, ia ingin bicara dengan Animing, adiknya. Tapi mata kecilnya tak
mendapati adiknya dalam kawanan tersebut. Ia mencoba mencari ke sana kemari,
hasilnya sama saja. Satu hal yang ia yakini, adiknya tersebut tidak ikut dalam
pertemuan karena tidak setuju dengan rencana mereka. Pagi tadi Marko sudah
memberitahukan rencana itu kepada adiknya, tapi adiknya tidak setuju dengan
rencana itu.
Jauh di seberang hutan itu, terlihat
Animing sedang meratapi kesedihannya sambil bertengger menghadap panorama sawah
milik para petani miskin. Sawah itu tidak terlalu luas. Setiap petaknya hanya
dapat menampung sekarung kecil padi. Belum lagi kalau sudah menjadi beras,
barangkali hanya terisi setengah karung. Beras sedikit begitu mungkin hanya
bisa untuk makan dua sampai tiga minggu saja . Belum lagi, kalau beras itu
perlu disisihkan sebagiannya untuk dijual ke pasar. Semua kesedihan itu seakan
berkecamuk dalam pikiran Animing. Ia tidak menyangka kakanya sampai setega itu
pada para petani miskin ini. Setidaknya mereka bisa mencari lahan sawah yang lebih
luas ketimbang lahan petani miskin tersebut. “Mungkin kaka masih menaruh dendam pada para petani
tersebut?” pikir Animing dalam hati.
Animing kemudian mengingat suatu kejadian
menyedihkan yang menimpa ayahnya dulu. Saat itu kakanya bersama dengan ayahnya
tengah membuat sarang baru untuk mereka. Waktu itu Animing masih kecil. Ibunya
bertanggung jawab menjaganya di sarang lama mereka. Ayah dan kakanya
menggunakan Jerami untuk sarang mereka. Setelah selesai membuat sarang,
keduanya berehat sejenak di sebuah ranting pohon tua, tak jauh dari sarang yang
barusan mereka buat. Ketika sedang asiknya bercerita, sebuah batu berukuruan
sebesar kepala mereka, menghantam kepala ayah hingga pecah. Waktu itu kakanya
segera kabur dari situ dan langsung terbang ke pohon yang lebih tinggi di
seberang pohon tua itu. Ia menyaksikan ayah mereka jatuh dari atas pohon itu
menghujam sebuah genangan lumpur samping pematang sawah. Kakanya yang
menyaksikan kejadian itu merasa sangat sedih. Ia telah kehilangan seorang ayah
yang berharga.
Tak jauh dari tempat jatuh itu, seorang
pemburu bersama dengan ketapel di tangan, menatap hasil buruannya yang
berlumpur. Ia tak jadi mengambil hasil buruannya karena sudah terkena lumpur.
Jauh di atas pohon sana, mata Marko menatap lekat si pemburu. Pemburu tersebut
tak lain adalah petani miskin pemilik sawah kecil itu.
Seingat Animing itu adalah kejadian yang
membuat kakanya menjadi seperti sekarang ini. Setelah hari sudah beranjak sore,
Animing memutuskan untuk kembali ke huniannya. Tetapi sebelum beranjak, ia
melihat beberapa petani memasangkan sesuatu di pinggiran sawah mereka. Ia tak
tahu apa yang dipasang mereka itu. Animing mencoba bertengger di sebatang pohon
tak jauh dari para petani tersebut memasangkan benda itu. Animing langsung
terkejut begitu tahu apa yang tengah dipasang para petani itu di sawah mereka.
Itu adalah jaring yang dipasang untuk
menangkap kawanan burung yang mencoba mendekati padi mereka.
“Aku harus segera memberi tahu kaka”
ujarnya dalam hati sambil bergegas pulang.
Dari kejauhan Animing bisa melihat
kakanya sedang membicarakan sesuatu dengan burung lainnya. Begitu ia sampai
pada kakanya ia langsung memperingatkan kakanya agar membatalkan rencana
mereka. Animing pun menjelaskan apa yang barusan dilihatnya kepada kakanya.
Mendengar itu, Marko yakin kalau adiknya sedang berbohong supaya rencana mereka
dibatalkan. Marko tidak terlalu mempedulikan perkataan adiknya itu. Ia kemudian
pergi meninggalkan adiknya sendirian di situ. Animing hanya bisa mematung, ia
tidak menyangka kalau kakanya tidak mempercayainya. “Tapi kak…….” begitu
Animing hendak menyelesaikan ucapannya, kakanya sudah berada jauh darinya.
Animing hanya bisa terdiam pasrah. Ia lalu kembali ke sarangnya sambil
memikirkan bagaimana cara memperingatkan kakanya dan juga teman-temannya.
Hari yang di tunggu-tunggu Marko beserta
kawanan burung pipit lainnya akhirnya tiba. Hari ini mereka akan melancarkan
aksinya. Ia merasa lega karena adiknya tidak lagi bisa mengganggu rencannya.
Semalam ia dan kawannya sudah mengurung adiknya di sebuah sangkar yang
menyerupai kandang. Ia jamin adiknya tidak bisa lagi mengganggu rencananya.
Sebenarnya Marko sangat menyayangi adiknya, hanya saja adiknya ini terlalu
lembek dan terlalu bersimpati kepada para petani yang sudah membunuh ayah
mereka.
Setelah merasa persiapan mereka sudah
matang, Marko dan kawanan pipit lainnya segera menuju persawahan. Ribuan burung
pipit terbang berjejer di angkasa. Hanya Animing yang tidak ikut serta dalam
kawanan itu. Sejak tadi ia berusaha keluar dari kandang yang mengurungnya. Ia
terus menerus mengobrak-abrik kendang tersebut. Lama ia berusaha, sampai
seketika kandang tersebut jatuh dari atas pohon membentur sebuah batu di tanah.
Kandang itu pun hancur seketika. Beruntung Animing bisa selamat. Tak mau lama
merenungi nasib baiknya, Animing bergegas menyusul kawanan itu. Ia tak mau
teman-temannya celaka.
Seluruh kawanan burung pipit sudah
sampai di lokasi. Mereka bertengger di pepohonan dekat persawahan, menunggu
perintah dari sang pemimpin, Marko. Marko melihat sekitar, ternyata betul
dugaanya. Adiknya sudah menipu dirinya. Tidak ada perangkap di sana. Setelah
melihat situasi di situ aman, Marko segera memberi perintah kepada
teman-temannya. Beberapa burung bersiap terjun ke sawah, tetapi seketika mereka
mengurungkan niatnya ketika seekor burung kecil lebih duluan menerjang ke sawah
itu. Betapa mereka merasa beruntung ketika menyaksikan burung kecil itu terdiam
kaku di udara, terjebak pada perangkap jaring yang dipasang petani. Beberapa
burung pipit yang mengenal burung kecil itu hanya bisa berteriak, itu Animing!
Marko hanya bisa diam tak berdaya.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar