GUNE
(Gambar diambil dari Google)
Kicauan burung yang biasa terdengar di depan pelataran rumahku, kini sudah tak terdengar lagi. Barangkali musim dingin yang kian membuncah ini, membuat mereka enggan keluar dari hunaiannya, takut kalau-kalau mati membeku diterjang badai salju.
Angin dingin beserta renik salju berhasil masuk melewati ventilasi jendela rumahku. Seakan menusukku, menambah bintik-bintik merah pada permukaan kulit tuaku. Musim dingin di Sallent memang yang paling ku benci. Semua aktivitasku jadi terhambat. Apalagi waktu untuk bertemu anakku terpaksa harus ditunda lantaran badai salju yang bisa saja datang tiba-tiba.
Aku tidak mau bertemu Antonio dalam kondisi cuaca buruk seperti ini. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin kusampaikan padanya, terutama tentang pekerjaannya sekarang. Ia selalu saja merahasiakan pekerjaannya dariku. Apa karena ia takut kalau ayahnya ini akan mengganggu pekerjaanya. Aku hanya berharap Antonio bisa menjadi pengusaha sukses sepertiku.
Di balik kekesalanku terhadap Antonio, sebetulnya masih ada satu persoalan lagi. Akhir-akhir ini selalu ada saja yang mengirimkan sebuah keris misterius ke rumahku. Dalam alamatnya pun tidak tertera nama pengirimnya. Keris-keris yang di kirim ke rumahku bukanlah keris yang biasa dijual di pasaran, sebab keris-keris ini bentuknya sangat indah. Ukirannya pun sungguh menyanjung hati. Seperti dibuat oleh seorang pandai besi terbaik di dunia. Sungguh keris yang sempurna. Aku hanya bisa memajang keris-keris itu pada etalase kayu yang ku buat sendiri, dengan harapan barangkali ada yang bisa menjawab semua kebingunganku.
Badai salju di Sallent semakin menjadi-jadi. Tak ada satu makhluk pun yang berani berkeliaran di luar sana tatkala musim sedang gila-gilanya. Aku pun begitu. Aku cuman bisa melakukan semua aktivitasku di dalam rumah saja. Membaca Koran lama, membaca buku, dan menonton berita di televisi yang isinya tentang pandemi covid-19. Semua aktivitas itu aku lakukan sambil menghangatkan diri dekat perapian. Rutinitas itu pun terus berlanjut seiring musim yang terus menerabas ini.
Ada saat dimana aku sangat merindukan Antonioku. Dulu saat masih menginjak masa kanak-kanak, Antonio adalah seorang anak yang gemar bertanya. Ketika Yosefa masih hidup, pasti Ia yang akan selalu menjawab semua pertanyaan Antonio. Suatu kali Antonio bertanya; “Ayah, Ibu, mengapa semua orang harus mati?”. Aku yang sementara itu sedang menyeruput secangkir kopi, langsung terbatuk-batuk ketika mendengar pertanyaan dari bocah itu. Bagaimana mungkin anak seusia Antonio bisa menanyakan pertanyaan konyol semacam itu. Namun, waktu itu Ibunya berusaha menjawab pertannyaan Antonio, takut kalau-kalau anak itu kecewa karena pertanyaannya tidak dijawab. “Nak, seorang yang mati menunjukan kalau Ia betul-betul ciptaan Tuhan, sebab tidak ada ciptaan Tuhan yang abadi di dunia ini” jawab Ibunya sambil mengecup pucuk kepalanya. Aku selalu tertawa sekaligus kagum bila mengingat kejadian itu. Ada sesuatu yang lain pada anak itu bila Ia melihat orang yang sudah meninggal.
Waktu Ibunya meninggal pun Ia begitu sedih dan merasa terpukul. Ia selalu mencemaskan bagaimana keadaan orang yang sudah meninggal tatkala mereka berada di dunia yang berbeda. Apa mereka akan baik-baik saja di dunia yang baru. Pribadi Antonio inilah yang selalu ku ingat dari padanya. Kini betapa tubuh tua renta ini sangat merindukan dekapannya. Tiap malam menjelang tidur aku selalu berharap agar musim sialan ini dapat segera berakhir.
ﻺ
Pagi ini aku bangun dengan kondisi lunglai. Rasanya raga ini enggan beranjak dari ranjang hangatku. Namun, tubuh yang semakin rimpuh ini tak boleh bermalas-malasan, sebab jika demikian maka umur bisa buntu di tengah jalan. Ketika tubuh ini mulai beranjak dari dipan, ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku langsung mengangkatnya ketika melihat nama yang tertera di layar posel. “Halo Ton, apa kabar?” tanyaku kegirangan begitu tahu kalau Antoniolah yang menelpon. “baik yah, kalau ayah?” suara serak di ujung sana mulai terdengar. Percakapan kami pun terus berlanjut, seperti baru pertama kalinya bercakap-cakap layaknya seorang Ayah dan Anak.
Hati ini kembali riang ketika mengetahui kabar Antonio yang baik-baik saja. Tak ada yang lebih mengembirakan hati dari pada mengetahui kabar seorang anak yang baik-baik saja. Barusan Antonio bercerita kalau Ia pun rindu ingin berjumpa denganku. Namun situasi saat ini berkata lain. Ia pun belum mau menceritakan perihal pekerjaannya disana. Entah apa yang membuatnya demikian. Aku pun tak mau menghancurkan percakapan kami ini dengan berdiskusi tentang hal itu. Sifat anak ini mirip sekali dengan Ibunya, tegas dan konsisten dengan semua perkataanya.
Belum lama aku terbang dengan harsaku. Ponselku kembali berbunyi. Lagi-lagi Antonio menghubungiku. Tidak biasa rindunya terus berangsur seperti ini. Aku langsung mengangkatnya. Namun tatkala suara di ujung sana mulai berucap, aku merasa ada yang lain pada nada suaranya. Ini bukan Antonio. “Halo, apa betul anda ayah dari pemilik ponsel ini?” suara wanita terdengar nyaring di ponselku.
ﻺ
Hari yang kukira akan seindah bagaskara ini serasa terjungkil balik begitu saja. Hari yang tadinya penuh harsa bak bianglala di ufuk nabastala, kini runyam ditelan kabar yang menyayat hati. Kini Antonioku bersisakan nama. Jiwanya telah kembali pada sang Hiang empunya kehidupan. Baru saja, seorang dokter rumah sakit mengabarkan kalau Antonio telah tiada. Rupanya Ia terjangkit virus corona. Antonio ditemukan tergeletak di depan rumahnya sambil memegang ponselnya. Pihak rumah sakit langsung mengabariku tentang kejadian ini karena nomor ponselku terdapat di riwayat panggilan keluar ponselnya hari ini. Jasadnya baru saja dikebumikan beserta korban lainnya. Aku tak ada disana.Yang ada hanya anggota medis saja. Rasanya hati ini seperti ditikam belati berduri. Bertubi-tubi sakitnya. Kini aku hanya seorang diri saja, ditemani sakit yang tak tahu berujung dimana.
ﻺ
Hari ini aku bangun dengan seberkas lara yang masih mengacau hati. Walau telah lewat setahun kepergian Antonio, tapi aku terus saja memikirkannya. Aku teringat dengan perasaan yang sama seperti yang dirasakan Antonio dulu ketika melihat orang yang sudah wafat. Entah apa yang sedang dilakukannya di dunia sana. Hari ini aku diajak oleh kawanku untuk melihat pameran keris di museum kota. Barangkali dengan melihat keris yang santer dibicarakan publik itu, rasa sedih ini bisa runyam. Konon katanya keris bernama GUNέ ini dibeli oleh pengusaha kaya raya dari seorang pemuda pandai besi beberapa tahun lalu. Kini pengusaha tersebut menyumbangkan keris tersebut kepada pihak museum untuk dipublikasikan.
Setelah bersiap-siap aku dan kawanku langsung menuju ke museum kota. Sesampainya di sana rupa-rupanya sudah banyak orang yang juga ingin melihat pameran keris tersebut. Aku dan kawanku sudah tak sabaran untuk melihat langsung keris bernama GUNέ itu.
Ruangan bagian dalam museum terlihat sangat besar ketika kami mulai masuk ke dalamnya. Jarak keris tersebut dengan tempat kami berdiri sekarang tidak terlalu jauh. Kami hanya perlu berjalan santai sambil menikmati benda-benda eksotis lainnya. Sesampainya kami di tempat pemajangan keris tersebut, ada suatu perasaan lain yang meliputiku. Aku seperti berada di rumah, sambil bernostalgia dengan keris-keris yang terpajang indah di etalase kayu buatanku.
Keris di hadapanku ini rupanya agak mirip dengan semua keris misterius di rumahku. Namun keris yang satu ini terlihat begitu gagah di atas mahligai kaca selubungnya. Ukiran-ukirannya seakan menjejakan mata. Lekukakannya terlihat serasi dengan lekukakan lainnya. Siapa pun yang membuatnya pantas digelari berkat dan pujian. Namun, tunggu dulu. Ada sebuah tulisan kecil di bawahnya. Barangkali tulisan itu adalah nama pembuatnya. Aku mencoba menatap lebih dekat tulisan kecil itu, maklum mata tua ini sudah tidak teruji lagi. Ketika tulisan itu terlihat jelas oleh mata tuaku, saat itu juga aku tersungkur jatuh. Serpihan demi serpihan kebingungan mulai menjelajahi pikiranku, seakan memberi jawaban yang pasti. Semuanya meruntut jadi satu. Kini aku tahu semuanya sekarang. Tulisan kecil itu adalah nama pembuat keris ini. Orang itu adalah yang sekarang sedang mengisi ruang pikirku.
PENULIS : Vergi Darman
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar