CERITA DI TANAH RANTAU

                                 

                                                    (Gambar diambil dari Google)

Hari ini Toni bangun dengan suasana yang berbeda. Sekarang waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi. Jam begini Jakarta sudah padat ramainya, berbeda dengan suasana di kampungnya yang barangkali semua penghuninya masih terlelap dalam tidurnya. Bahkan ayam pun enggan berkokok, kalau tidak mau diolah jadi lauk santap pagi.

            Ini hari pertama Toni mengadu asa di tanah perantauan. Peliknya menjadi anak sulung, selalu berakhir di tanah perantauan. Selepas ayahnya meninggal, seluruh beban keluarga pun terpaksa harus dipikulnya, apalagi mengingat Ibunya yang kadang sakit-sakitan dan adiknya Amel yang sedang duduk di bangku sekolah.

            Hari ini Toni harus sudah mendapatkan pekerjaan. Kadang dirinya bingung, pekerjaan apa yang cocok dengannya yang hanya sebatas tamatan SMP. Maklum, lemahnya ekonomi keluarga buatnya berhenti untuk sekolah, apalagi saat itu ayahnya mulai sakit-sakitan sampai akhirnya meninggalkan mereka seorang diri tanpa apa-apa, kecuali rumah reyot yang masih layak dipakai.

            Toni mulai bersiap-siap sekarang. Jam 6 nanti ia harus mulai menjalankan niatnya mencari pekerjaan.

            “Mau kemana, Bang?” Tanya seorang tetangga samping kosnya.

            “Biasa, bang. Cari kerja” jawabnya sambil bergegas pergi.

***

            “Ternyata mencari pekerjaan di kota seperti ini sangat sulit sekali. Apa karena tampangku yang hitam legam ini yang membuat mereka enggan menerimaku?” tanyanya pada diri sendiri.

            Tak urung pada niatnya, Toni pun melanjutkan misinya. Barangkali masih ada kesempatan mendapatkan pekerjaan lain.

            Pencarian terakhirnya mengantarnya ke sebuah terminal bus kota. Saat itu hari mulai bercorak lembayung. Sebentar lagi matahari akan kembali ke peraduannya. Harapan terakhirnya hanya pada tempat ini. Barangkali Toni bisa mendapatkan pekerjaan di tempat ini.

            “Permisi, pak. Apa ada lowongan pekerjaan di sini?” tanyanya pada seorang penjaga terminal.

            “Coba kamu tanya pada Bapak yang disana” kata penjaga itu sambil menunjuk ke arah seorang Bapak yang sedang mengisap rokok di sudut terminal.

            Ada pun orang yang dimaksud adalah sorang kepala terminal di situ. Namanya Abdul Bin Komal. Toni kemudian menghampiri bapak tersebut.

            “Permisi, Pak. Apa ada lowongan pekerjaan di sini?” Tanya Toni.

            “Anak baru ya? Dari mana?” Tanya Abdul tanpa menjawab pertannyaan Toni.

            “Asal saya dari Timor, Pak” Jawab Toni bersemangat.

            “Pantasan” tanggap Abdul sambil menunjukan wajah sinis.

            “Kalau kau mau, jadi tukang parkir saja. Soalnya tenaga tukang parkir di sini kurang. Siapa tahu kamu bisa membantu” lanjut Abdul.

            “Terima Kasih banyak, Pak” ucap Toni senang sambil berusaha menyalami tangan Abdul, tetapi segera ditepisnya.

            “Kapan saya bisa mulai bekerja, Pak?” Tanya Toni.

            “Besok kamu bisa mulai bekerja. Pukul 6 Pagi kamu harus sudah ada di sini” jawab Abdul sambil membuang puntung rokoknya.

            “Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu saya mohon pamit.” ucap Toni pada Abdul yang hanya ditanggapi anggukan kepala.

            Hari ini Toni sangat senang sekali. Usahanya hari ini tak sia-sia.

            “Ibu, Amel, doakan Toni agar bisa bekerja keras untuk kalian” ucapnya dalam hati, lalu setelah itu Ia beranjak pulang.

***

            Hari ini Toni bangun dengan semangatnya. Ini adalah hari pertamanya bekerja. Sebelum pukul 6 pagi ia sudah tampil rapi di depan cermin. Tidak lupa pula Ia menyemprotkan downy yang sudah ditaruh dalam botol parfum bekas ke bagian muka bajunya. Setelah itu Ia pun berangkat kerja.

            Hari pertamanya bekerja cukup melelahkan. Maklum saja, saat itu sedang musimnya orang-orang mudik ke kampung halaman. Ada yang pergi menengok sanak saudaranya di kampung. Ada yang pergi berdoa di makam leluhur, memohon agar lolos dalam caleg. Ada yang pergi menengok isteri buangannya, serta banyak pula intensi-intensi mudik lainnya.

***

            Kurang lebih sudah empat bulan lamanya Toni bekerja sebagai tukang parkir terminal bus. Selama sepekan ini sangat sedikit sekali kendaraan yang masuk  ke terminal. Barangkali ini semua karena pandemi covid yang tengah membuncah. Toni pun merasakan situasi yang kian berubah waktu demi waktu. Ketika Ia sedang memikirkan hal itu, sebuah suara terdengar memanggil namanya dari kejauhan.

            “Toni, cepat kemari” teriak Abdul dari kejauhan

            Toni pun segera menghampiri Abdul

            “Ada apa, Pak?” Tanya Toni penasaran.

            “Ikut saya masuk” suruh Abdul sambil melangkah masuk ke dalam ruangan

            Toni pun mengekor di belakangnya, lalu keduanya duduk di tempat masing-masing.

            “Apa Kau sudah mengetahui situasi sekarang ini?” Tanya Abdul tegas kepada Toni.

            “Tentu saja, Pak” jawab Toni tenang.

            “Apa kau tahu tahu dampak dari situasi ini?” lanjut Abdul.

            “Seperti yang sedang terjadi sekarang, Pak. Hari ini hampir tidak ada kendaraan yang masuk ke terminal. Bahkan hari-hari sebelumnya pun demikian” jawab Toni santai.

            “Apa kau tahu dampak lain dari hal itu?” Tanya Abdul lagi.

            “Maksud Bapak?” Tanya Toni kembali lantaran tak mengerti maksud Abdul.

            “Jadi begini Toni, sudah sepekan ini kita tidak memperoleh penghasilan. Aku pun kewalahan mengupah kalian. Aku terpaksa mem-PHK kamu. Dua karyawan lainnya sudah saya tindaklanjuti demikian” terang Abdul.

            “Apa ini serius, Pak? tolong jangan mem-PHK saya, Pak. Baru empat bulan saya bekerja di sini. Saya harus menafkai keluarga saya di kampung” pinta Toni sambil memohon tulus.

            “Maaf Toni, cuman ini jalan satu-satunya. sekarang kamu boleh meninggalkan tempat ini” kata Abdul tegas.

            Perasaan gelisah sekaligus hancur kini tengah beradu dalam pikiran Toni.

“Apa yang harus aku katakana pada keluargaku di kampung?” tanyanya dalam hati.

Ketika Ia sedang duduk termenung di sebuah bangku tak jauh terminal, ponselnya berbunyi. Toni kemudian mengambilnya dari saku celana. Tatkala Ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya, ketakutan dan kecemasan langsung meliputinya. Yang menelpon adalah Ibunya. Setelah berpikir lama, Ia pun memberanikan diri mengangkat telpon tersebut.

“Halo, Bu” sapanya ketika ponsel sudah tersambung.

“Halo, Toni. Bagaimana kabarmu di sana?” Tanya ibunya

“Aku baik-baik saja, Bu” jawabya meyakinkan.

“Bagaimana pekerjaanmu?” lanjut Ibu Toni.

“Pekerjaanku juga baik-baik saja” jawab Toni bohong.

“Begini Ton, sudah setahun ini uang iuran wajib Amel belum dibayar. saat ini Ibu belum punya uang untuk melunaskannya. Untuk makan saja Ibu terpaksa harus memintanya dari tetangga. Apa kamu punya uang?” kata Ibunya sambil terisak.

Mendengar ini sebutir air mata jatuh dari pipi Toni. Perasaan sedih seakan menjejal dalam hatinya. Ia hanya bisa masygul sambil berjelampah lunglai.

“Saat ini aku belum punya uang, Ma. Barangkali besok ada. Nanti Toni akan coba kirimkan” katanya sambil menyembunyikan rasa sendu.

“Baiklah Ton. Ibu akan menantikannya” jawab suara parau di ujung sana.

Telpon pun dimatikan. Tanpa berlama-lama Toni berlari menuju Abdul. Barangkali Ia masih di sana. Ketika Ia sudah berada dekat dengan ruangan Abdul, orang yang dicarinya itu sedang mengunci pintu ruangan. Rupanya Ia hendak pulang.

“pak, tunggu, pak!” teriak Toni tatkala berada hampir dekat dengannya.

“Ada apa?” Tanya Abdul kebingungan.

“Begini, Pak. Saya hendak meminjam uang. Barangkali bapak bisa meminjamkannya pada saya. Saat ini saya sangat membutuhkannya, pak. Keluarga saya di kampung sedang kesusahan, pak.” pintanya memohon.

“Toni, Toni, di tengah situasi seperti ini, apa kau pikir aku akan meminjamkanmu uang? Bukan kau saja yang memiliki keluarga, Aku juga punya keluarga di rumah. Jadi jangan pernah berharap aku akan meminjamkannya padamu” jawab Abdul menusuk lalu setelah itu pergi meninggalkan Toni.

Saat ini Toni hanya bisa berdiam diri dan bungkam. Ia hanya bisa berpasrah sambil berdayuh lemah.

“apa yang harus kukatakan pada Ibu nanti” katanya dalam hati.

***

Belum sempat Toni bangun dari tidurnya, ponselnya berbunyi nyaring dari atas meja. Dengan mata yang masih ngantuk, ia megambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang pagi-pagi begini sudah menelponnya. Ketika ia melihat nama yang teracantum di layar ponselnya jantungnya langsung berdetup kencang. Itu telpon dari Ibunya. Ia bingung harus menjawab apa pada Ibunya. Saat ini Ia tidak mempunyai sepeser pun uang. Usahanya untuk meminjam uang pada Abdul kemarin gagal total. Padahal Ia sudah membayangkan kalau hari ini ia akan berangkat ke bank untuk mengirim uang pada Ibunya.

Karena belum mempunyai alasan yang cukup jelas, Ia pun tidak menjawab telpon tersebut dan membiarkannya terus berbunyi di atas meja. Nanti juga Ibu akan cape sendiri menelponnya.

***

Tiga bulan lamanya Toni hidup menderita. Sekarang Ia sudah tidak tinggal di kos lagi. Dua bulan yang lalu pemilik kos mengusirnya karena tidak membayar uang kos. Satu-satunya tempat naungannya hanyalah trotor jalan. Tiap malam Ia tidur di sana beralaskan karton bekas yang didapatnya dari tempat sampah. Bukan hanya itu saja, untuk makan saja Ia harus mengemis dulu, itu pun jika ada yang berbelas kasihan padanya. Satu-satunya barang berharga yang dimilikinya hanyalah ponsel bermerek Nokia 108-nya. Sengaja Ia menyimpannya agar bisa menepon keluarganya di kampung, tapi sudah beberapa hari ini Ia menelpon mereka namun tak pernah di jawab.

Hari ini Toni sedang bersandar pada sebuah tiang dekat jalan, berharap ada yang memasukan uang dalam gelas aqua bekas di depannya. Tak lama Ia bersandar di situ, ponselnya berbunyi dari dalam sakunya. Ia pun cepat-cepat mengeluarkan ponsel tersebut berharap Ibunyalah yang menelpon. Ketika Ia melihat nama yang tertera di layar ponsel, hatinya kepalang senang. Itu telpon dari Ibunya. Ia pun langsung mengangkatnya, dan telpon mulai tersambung.

“halo, Bu” sapanya tak sabaran.

“halo, Toni” jawab Ibunya di ujung sana.

“kenapa baru sekarang Ibu mengangkat telpon dari Toni?” Tanya Toni sambil berkelimpangan air mata.

“Maaf, Ton. Maksud Ibu menelpon sekarang karena Ibu mau menyampaikan sesuatu padamu. Sebenarnya Ibu sudah menikah lagi. Dua bulan yang lalu Pak Haji Jambul meminta Ibu jadi isteri ke-5 nya. Awalnya Ibu enggan menerimanya. Tapi karena kondisi ekonomi kami yang buruk, Ibu terpaksa menerima lamaran Pak Haji. Sekarang Ibu dan Amel sudah pindah ke rumahnya. Rumah lama kita sudah Ibu jual buat lunasi utang” kata Ibunya.

Mendengar itu hati Toni kembali sakit.

“mengapa Ibu baru menyampaikannya sekarang?” teriak Toni galak.

“Ibu mau agar kamu jangan pernah mengontak Ibu lagi” bentak Ibunya di ujung sana.

“kenapa Ibu berkata seperti itu?”Tanya Toni kebingungan.

“Ibu ingin menyampaikan satu rahasia kecil antara Ibu dan almarhum Ayahmu. Sebenarnya kamu itu bukan anak kami. Almarhum ayahmu melihatmu di sebuah tempat sampah kumal, lalu ia mengambilmu dan membawahmu ke rumah. Saat itu Ibu dan Ayahmu belum dikaruniai anak, jadi kami berusaha membesarkanmu sebagai anak kami. Tapi sekarang kamu sudah tahu kebenarannya, jadi jangan kembali lagi pada Ibu. Sejak kematian Ayahmu, Ibu sudah curiga kalau kamu itu anak pembawa sial” cetus Ibunya kasar lalu kemudian mematikan ponsel.

Bunyi ponsel yang terputus serasa menggema dalam telinga Toni. Kini semuanya menjadi suram lalu berubah jadi hitam pekat. Tak ada kata yang terucap. Hanya hening yang ada. Ponsel yang tadinya terpatri samping telinganya, kini tergeletak pasrah di tepi jalanan aspal.

PENULIS : Vergi Darman

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PAHLAWAN KECIL

GUNE