IBU
Suatu ketika hiduplah sebuah keluarga miskin yang tinggal di daerah pinggiran kota. Keluarga tersebut hanya terdiri dari seorang ibu dan seorang anak. Ayahnya telah lama pergi meninggalkan mereka berdua. Si Ibu bernama Sebet dan si Anak bernama Lamber. Sebet sangat menyayangi anaknya, karena hanya dia anak satu-satunya. Sebet rela bekerja seharian demi bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dan juga untuk menyekolahkan anaknya.
Pekerjaan sehari-hari sebet adalah menjual kayu bakar di pasar. Kayu tersebut di ambilnya dari hutan. Sebet selalu bangun pada jam 5 pagi, lalu setelah itu berangkat ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Pekerjaan ini dilakukannya secara rutin, walalupun hanya mendapatkan penghasilan yang sedikit. Sambil menjual kayu bakar, sebet juga menjual kue. Kue kue tersebut dibuatnya sebelum tidur malam. Namun, seluruh kerja keras yang dilakukan oleh sebet seringkali tidak dianggap oleh Lamber, anaknya. Ia sangat malu mempunyai ibu yang miskin seperti sebet.
Setiap pulang dari sekolah, ia pasti akan berada sendirian di rumah, karena ibunya sedang berjualan di pasar. Walaupun ibunya berada di pasar, tetapi Ibunya pasti sudah menyiapkan makan siang untuk dirinya, walaupun makanannya sederhana. Inilah yang membuat anaknya ingin sekali pergi dari rumah. Suatu waktu, anaknya meminta kepada ibunya agar sekali-kali mereka makan daging sebagai lauk, karena ia merasa bosan kalau hanya makan dengan tempe atau dengan tahu saja. ibunya hanya bisa merenungi permintaan itu. Ia tahu kalau harga daging di pasar sangat mahal, apalagi uang yang dimiliki oleh ibunya telah habis untuk melunasi utang. Namun, ibunya berusaha menyanggupi permintaan dari anaknya.
Keesokan harinya ketika Lamber pulang dari sekolah, ia begitu senang ketika di meja telah tersedia sepiring daging yang begitu sedap. Tanpa berlama lama ia langsung menyantapnya karena ia sedang lapar. Baru hari ini ia merasa kalau ibunya tidak pelit kepadanya.
Sore harinya ketika lamber sedang belajar, ia mendengarkan suara orang yang sedang terjatuh di luar. Ia kemudian memeriksanya, dan ternyata itu adalah ibunya yang sedang tergeletak di tanah dengan darah yang mengucur dari pahanya. Ia kemudian segera menolong ibunya. Namun ia begitu terkejut ketika melihat paha ibunya yang terus mengeluarkan banyak darah. Ia kemudian melepaskan kain yang menutupi luka ibunya.
Lamber begitu terkejut ketika menyaksikan bahwa paha ibunya berlubang. Ketika ia ingin bertanya kepada ibunya tentang lukanya itu, ibunya sudah tidak bergerak lagi dan tidak ada nafas yang keluar dari hidungnya.
Ibunya telah mati, dan di tangannya ada sebuah surat yang ternyata berisi alamat rumah dari ayah kandungnya. Namun bukan surat itu yang sedang dipikirkannya. Ia sedang memikirkan daging yang sudah dimaknnya siang tadi. Ternyata itu adalah daging yang diambil ibu dari pahanya sendiri. Ia telah memakan daging ibunya sendiri.
PENULIS : Vergi Darman

Komentar
Posting Komentar